LAGUNA

The-Malays-about-war-and-about-love-painting-by-Edward-Hopper

(Joseph Conrad, diterbitkan di The Cornhill Magazine, Edisi Januari 1897)

penerjemah Sarita Rahel Diang Kameluh

The Malays, about war and about love, painting by Edward Hopper
The Malays, about war and about love, painting by Edward Hopper

Lelaki kulit putih itu, bersandar dengan kedua lengannya di atas atap kecil di buritan perahu, berkata kepada jurumudi—

“Kita akan bermalam di lahan Arsat. Sudah larut.”

Orang Melayu itu hanya mendengus, dan terus menyeringai sungai dengan tajam. Lelaki kulit putih meletakkan dagunya di atas lengan yang bersilang dan menelaah jejak perahu. Di ujung lorong lurus hutan yang dipotong oleh kilauan liar sungai, matahari muncul tanpa awan dan mempesona, bergelantung rendah di atas air yang berkilauan halus seperti pita logam. Hutan-hutan itu, suram dan kusam, tegap dalam diam dan sunyi di setiap tepi sungai bidang. Di kaki pohon-pohon besar yang menjulang, palem nipa tanpa batang tumbuh dari tepi lumpur, dalam gumpalan daun buntal dan berat, yang menggantung membisu di atas pusaran arus berwarna cokelat. Dalam keheningan udara, setiap pohon, setiap daun, setiap dahan, setiap yang menjalar dan setiap kelopak bunga rapuh tampak seolah-olah dibuat mempesona terkurung dalam keadaan senyap sempurna. Tidak gerakan di sungai kecuali delapan dayung yang berdenyar secara teratur, menyelam bersamaan dengan percikan tunggal; sementara jurumudi menyapu kanan dan kiri dengan gerakan tiba-tiba dan berkala dari bilahnya, menyerupai setengah lingkaran, berkilau di atas kepala. Air bercampur busa di sepanjang sisi dengan desir merundung. Dan perahu si lelaki kulit putih, bergerak ke hulu oleh hambatan yang diciptakannya sendiri, tampak memasuki pintu gerbang suatu lahan. Di situ, jejak laju perahu telah selamanya sirna.

Lelaki kulit putih itu, berpaling dengan punggung menghadap matahari terbenam. Matanya meninjau sepanjang ruang lautan yang kosong dan luas. Selama tiga mil terakhir dari jalur perjalanannya, sungai tampak bimbang dan ragu-ragu, seolah-olah tertarik tidak terelakkan oleh kebebasan cakrawala terbuka, mengalir lurus ke laut, mengalir lurus ke timur—ke timur yang mengandung cahaya dan gelap. Di belakang perahu, beberapa burung berkoar-koar memanggil, berkicau tak selaras dan samar. Mereka meluncur melintasi air berderai dan tersesat dalam keheningan nafas dunia sebelum bisa mencapai pantai seberang.

 

Jurumudi mengayunkan dayungnya ke dalam aliran sungai, memegang erat dengan lengan yang kaku. Tubuhnya terdorong ke depan. Air berdesir keras; dan tiba-tiba jalur lurus yang panjang itu seolah-olah berputar di pusatnya. Hutan-hutan berayun dalam setengah lingkaran, dan sinar matahari terbenam yang miring menyentuh sisi perahu dengan sinar membara, melemparkan bayangan ramping terbias para kru perahu di atas kilauan bergaris-garis sungai. Lelaki kulit putih itu berbalik untuk melihat ke depan. Arah perahu telah diubah membentuk sudut tegak lurus terhadap sungai, dan kepala naga yang diukir di ujung buritannya sekarang mengarah ke celah di semak-semak pinggir tepian. Perahu itu meluncur berlalu, menyapu cabang yang menjuntai, menjauhi sungai seperti makhluk ramping amfibi yang meninggalkan air ke sarangnya di hutan.

Sungai kecil itu seperti parit: berliku-liku, lubuk pinggan; penuh kegelapan di bawah hamparan biru murni dan bersinar remang dari langit. Pohon-pohon besar menjulang tinggi bersembunyi di belakang tumbuh-tumbuhan menjalar bak tirai. Di sana-sini, di sekitar kegelapan mengkilap air yang hitam, akar berbelit-belit dari beberapa pohon tinggi terlihat di antara tirai-tirai tumbuhan paku kecil, hitam dan kusam, melingkar dan membatu, seperti ular terperangkap. Celotehan singkat para dayung bergema keras di antara dinding tumbuhan yang bayan dan suram. Kegelapan menyusup keluar dari antara pohon-pohon, melalui labirin rimbun tumbuhan menjalar, dari balik dedaunan curai dramatis namun hening: kegelapan yang asing dan tak tertaklukan; kegelapan yang berbau dan berbisa dari hutan yang tak tertembus.

Orang-orang berdayung di air yang dangkal. Sungai kecil melebar, meruak luas ke laguna yang tenang. Hutan tampak mundur dari tepian berlumpur, meninggalkan sebaris rerumputan hijau terang alang-alang untuk mengapit kebiruan langit yang terpantul. Awan merah muda berbulu-bulu melayang tinggi di atas, menyusur warna-warna lembut di bawah daun-daun terapung dan bunga-bunga perak teratai. Sebuah rumah kecil, bertengger di gundukan tinggi, tampak hitam di kejauhan. Di dekatnya menjulang dua palem nibong, seolah-olah bertunas dari hutan di latar belakang, sedikit miring di atas atap yang acak-acakan. Perawakan itu, dengan kepala berdaun condong, seakan memancarkan kelembutan dan perhatian sambil berduka.

Sang jurumudi, menunjuk dengan dayungnya, berkata,

“Arsat ada di sana. Kulihat perahunya terikat di antara tiang-tiang itu.”

Para pendayung di sepanjang sisi perahu menjadi was-was di akhir perjalanan itu. Mereka lebih suka menghabiskan malam di tempat lain daripada di laguna gaib dan angker ini. Selain itu, mereka tidak menyukai Arsat, pertama karena dia adalah orang asing, dan juga karena Arsat memperbaiki rumah yang hancur, tinggal di dalamnya, lalu berkata bahwa dia tidak takut untuk tinggal di antara roh-roh yang menghantui tempat-tempat yang tak dihuni manusia. Orang seperti itu bisa mengganggu jalannya takdir dengan pandangan atau kata-kata; sementara hantu-hantunya tidak ramah pada para musafir yang ingin membawa malapetaka kejahatan kepada manusia. Orang kulit putih tidak peduli dengan hal-hal seperti itu: mereka orang kafir yang mengimani Bapak Durjana, yang melindungi mereka sebagai pawang mara bahaya tak terduga dunia ini. Mereka juga menentang peringatan orang-orang saleh dengan kebimbangan yang menyebalkan. Apa yang harus dilakukan untuk melelehkan hati orang kafir?

Demikian pikir mereka, sembari melemparkan ujung tongkat panjang perahu. Perahu besar itu meluncur pesat, tanpa suara, mulus, menuju lahan Arsat, hingga gemeretak besar tongkat yang dilemparkan, dan desahan keras “Alhamdulillah!” itu terlontarkan dengan ketukan lembut ke tiang bengkok di bawah rumah.

Para kru dengan wajah yang terangkat berseru tak serempak, “Arsat! Hei, Arsat!” Tidak ada yang datang. Orang kulit putih mulai memanjat tangga tak rata yang mengarah ke mimbar bambu di depan rumah. Juragan perahu itu berkata dengan rasa kesal,

“kita akan masak di sampan, dan tidur di atas air.”

“Berikan saya selimut dan keranjang itu,” kata si lelaki kulit putih, dengan ringkas.

 

Dia berlutut di tepi mimbar untuk menerima buntalan itu. Kemudian perahu itu didorong pergi. Lelaki kulit putih itu berdiri, berhadapan dengan Arsat, yang telah muncul melalui pintu rendah rumahnya. Dia adalah seorang pria muda, kuat, dengan dada lebar dan lengan berotot. Dia tidak memakai apa-apa kecuali sarongnya. Kepalanya telanjang. Matanya yang besar dan lembut menatap penuh gelora pada lelaki kulit putih. Tanpa sapaan, suara dan perilakunya tenteram ketika bertanya,

“Apakah Anda punya obat, Tuan?”

“Tidak,” kata sang pengunjung dengan suara terkejut. “Tidak. Mengapa? Apakah ada yang sakit di rumah ini?”

“Masuk dan lihatlah,” jawab Arsat, dengan nada yang sama tenangnya, dan berpaling lagi, melintasi pintu kecil. Lelaki kulit putih, meletakkan buntalannya, mengikuti.

Di dalam cahaya redup naungan itu, dia melihat di atas sebuah pembaringan bambu seorang wanita terlentang di bawah beberan helai kain katun merah. Dia terbujur kaku, seolah-olah mati; tetapi matanya yang besar, terbuka lebar, berkilauan dalam gelap, nanar ke atas pada rangka bambu ramping, mematung dan buta. Dia terbakar demam, separuh sadar. Pipinya sedikit cekung, bibirnya setengah terbuka, dan di wajah belia itu ada air muka aneh dan terperangkap—air muka renungan dan terpaku seperti mereka yang tak sadar dan akan mati. Kedua pria itu berdiri diam meninjaunya.

“Sudah berapa lama dia sakit?” tanya sang pelancong.

“Aku tidak tidur selama lima malam,” jawab orang Melayu itu dengan nada berpikir.

“Awalnya dia mendengar suara-suara yang memanggilnya dari air dan bersikeras melawanku. Tapi semenjak fajar ini, dia tampak tuli—dia tidak mendengarkanku. Dia tampak buta. Dia tidak melihatku—aku!”

Arsat termenung selama satu menit, kemudian bertanya perlahan—

“Tuan, akankah dia mati?”

“Aku khawatir begitu,” kata orang kulit putih, dengan dukacita. Dia telah mengenal Arsat bertahun-tahun yang lalu, di sebuah negeri jauh pada masa sulit dan penuh bahaya. Masa ketika persahabatan begitu dihargai. Semenjak temannya orang Melayu itu datang tak terduga untuk tinggal di pondok di laguna dengan seorang wanita janggal, dia telah menumpang tidur beberapa kali di sana ketika menyusuri sungai. Dia menyukai orang yang bisa dipercaya dan berperang tanpa rasa takut seperti kawan kulit putihnya. Dia menyukainya—mungkin tidak seperti ketika orang menyukai anjing kesayangannya—tapi ia sudah cukup menyukainya karena telah membantu dan tidak banyak bertanya, yang ikut serta memikirkan keadaan lelaki kesepian dan wanita berambut panjang dengan wajah yang berani dan mata berjaya, yang tinggal bersama tersembunyi oleh hutan—sendirian dan ditakuti.

 

Ia keluar dari pondok tepat ketika kobar matahari senja yang memukau dipadamkan bayangan yang mengendap dan tangkas, membumbung seperti uap hitam tak teraba di atas puncak pohon, merayap di langit, memadamkan lembayung dari awan mengapung dan bias merah siang yang berlalu. Dalam sekejap, semua bintang muncul di atas kegelapan yang dashyat dari bumi dan laguna luas itu, berkilauan; cahaya terpantul menyerupai bingkai langit malam yang terpental ke dalam kegelapan. Belantara yang ganas tampak putus asa dan dalam. Lelaki kulit putih itu makan malam dari keranjang, lalu mengumpulkan beberapa batang yang tergeletak di sekitar mimbar, membuat api kecil, bukan untuk kehangatan, tetapi untuk asap, yang akan mengusir nyamuk. Dia membungkus dirinya dengan selimut dan duduk dengan punggungnya bersandar di dinding dari gelagah, sambil termenung merokok.

Arsat keluar dari pintu dengan langkah diredam dan berjongkok di dekat api. Lelaki kulit putih itu merentangkan kakinya sedikit.

“Dia bernapas,” kata Arsat dengan suara rendah, menduga pertanyaan yang diharapkan. “Dia bernapas dan demam seolah-olah terbakar api besar. Dia tidak berbicara; dia tidak mendengar—dan terbakar!”

Dia berhenti sejenak, lalu bertanya dengan tenang dalam nada yang terdengar acuh—

“Tuan… akankah dia mati?”

Pria putih itu menggerakkan bahunya dengan gelisah dan berbisik dengan ragu-ragu—

“Jika itu adalah takdirnya.”

“Tidak, Tuan,” kata Arsat, dengan tenang. “Jika itu adalah takdir, aku mendengar, aku melihat, aku menunggu. Aku ingat… Tuan, apakah kau ingat dulu? Apakah kau ingat saudaraku?”

“Iya,” kata lelaki kulit putih itu. Si Melayu tiba-tiba bangkit dan masuk ke dalam. Yang lain masih duduk di luar. Mereka bisa mendengar suara dalam pondok. Arsat berkata: “Dengar aku! Bicaralah!” Kata-katanya diikuti oleh segenap keheningan. “Oh, Diamelen!” teriaknya, tiba-tiba. Setelah teriakan itu ada desah panjang. Arsat keluar dan kembali duduk di tempat semula.

Mereka duduk hening di depan api. Tak ada suara di dalam pondok, tak ada suara di dekat mereka; tetapi jauh di laguna mereka mendengar suara-suara perahu mendayung yang berdentang-dentang di atas hening air. Api di haluan sampan bersinar redup di kejauhan dengan kilau lembayung samar. Kemudian api itu padam. Suara-suara berhenti. Tanah dan air tidur dalam kegelapan yang tak terlihat, membatu dan bisu. Seolah-olah tak ada yang tersisa di dunia ini kecuali aliran kilau bintang-bintang, tak henti dan sia-sia, di kedamaian hitam malam.

Lelaki kulit putih itu menatap lurus ke depannya ke dalam kegelapan dengan mata terbuka lebar. Rasa takut dan kagum, wahyu dan ajaibnya kematian—kematian yang dekat, tak terhindarkan, dan tak terlihat, menenangkan kegelisahan darah sanak saudaranya dan mengaduk pikiran yang paling lamat, yang paling intim. Prasangka kejahatan, rasa curiga yang mengendap di hati kita, mengalir keluar ke hening di sekitarnya—ke dalam lengang yang berudara kelu, dan membuatnya tampak meragukan dan tercela, seperti berkedok tenang tak dapat dilepas. Dengan kedok itu, ia melakukan kekerasan yang maksiat. Dengan keberadaanya yang menggoyahkan alam itu, bumi yang diliputi kedamaian sinar bintang menjadi negeri bayangan pertempuran manusia yang tidak manusiawi, medan pertempuran setan yang menakutkan dan menawan, agung atau hina, kerap bertemput untuk menguasai hati yang tak berdaya. Negeri yang gelisah dan misterius, penuh keinginan dan ketakutan yang tak pernah padam.

 

Sebuah desiran sayu naik ke langit malam; bisikan pilu dan memberangas, seakan belantara sekitar yang sunyi mencoba berbisik ke telinganya hikmah dari sikap acuh mereka. Suara-suara ragu dan samar melayang di udara di sekelilingnya, perlahan-lahan membentuk kata-kata; dan akhirnya berderai dalam aliran kalimat yang lunglai dan monoton. Dia berkutik seperti seseorang yang terbangun dan mengubah gaya tidurnya. Arsat, membatu dan kelam, duduk dengan kepala tertunduk di bawah bintang-bintang, berbicara dengan lesu dan seperti mengigau, bernada mimpi,

“… di mana kita bisa meringankan beban kesusahan kita kecuali pada seorang kawan? Seorang pria harus berbicara tentang perang dan tentang cinta. Kau, Tuan, tahu apa itu perang, dan di masa ini, kau telah melihatku tergila-gila dengan kematian semestinya yang lain dengan hidup! Tulisan mungkin hilang; kebohongan mungkin ditulis; tetapi apa yang kita saksikan adalah kebenaran dan tetap ada dalam pikiran!”

“Aku ingat,” kata lelaki kulit putih itu, dengan tenang. Arsat melanjutkan dengan nada duka—

“Maka aku akan berbincang padamu tentang cinta. Berbincang di malam hari. Berbincang sebelum malam dan cinta lenyap—dan sebelum matahari menengok kesedihan dan rasa maluku; wajah kelamku; hatiku yang terbakar.”

Sebuah helaan napas, singkat dan samar, menandai jeda yang hampir tak terlihat, dan kemudian kata-katanya mengalir terus, tanpa gemuruh, tanpa gerakan.

“Setelah masa sulit dan perang berakhir, kau meninggalkan negara ini untuk mengejar cita-cita. Kami, orang kepulauan, tidak dapat mengerti bahwa aku dan saudaraku kembali dijadikan pembawa pedang Datuk seperti sebelumnya. Kau tahu kami adalah orang keluarga, yang berasal dari ras penguasa, dan paling pantas memikul lambang kekuasaan di bahu kanan kita. Dan saat semua makmur, Si Dendring menunjukkan kami kasih sayang, sebagaimana kami, di masa dukacita, telah menunjukkan kepada dia kesetiaan dan keberanian kami. Itu adalah masa damai. Waktu berburu rusa dan menyabu ayam; obrolan remeh dan ricuh tolol antara lelaki yang berperut kenyang dan senjata berkarat. Tetapi penabur memandang padi muda tumbuh tak menciut, dan para pedagang berseliweran, beranjak kurus dan kembali gemuk ke hulu sungai ranah. Mereka juga membawa kabar. Membawa dusta dan kebenaran yang bercampur aduk, sehingga tidak ada yang tahu kapan harus bergembira dan kapan harus bersedih. Kami mendengar dari mereka tentang kau juga. Mereka telah melihat kau di sini dan di sana. Dan aku senang mendengarnya, karena aku terkenang masa-masa bahagia, dan aku selalu mengingatmu, Tuan, sampai tiba ketika mataku tidak bisa melihat kebahagiaan itu di masa lalu, karena mataku hanya terpaku pada orang yang hampir mati di sana—di dalam rumah.”

Dia berhenti untuk berseru dengan bisikan yang gentur, “Oh Mara bahaya! Oh malapetaka!” lalu melanjutkan berbicara dengan nada sedikit lantang: “Tidak ada musuh yang lebih buruk dan teman yang lebih baik daripada seorang saudara, Tuan, karena ia begitu mengenalnya, dan dalam keintiman ini terdapat kekuatan baik atau jahat. Aku mencintai saudaraku. Aku menghampirinya dan memberitahu bahwa aku tak melihat apa pun kecuali satu wajah, tak mendengar apa pun kecuali satu suara. Dia berkata kepadaku: ‘Bukalah hatimu sehingga wanita itu bisa melihat isinya—dan tunggu saja. Bersabar itu bijaksana. Inchi Midah bisa mati atau Datuk kami bisa melepaskan buncah pada seorang wanita!’ Aku menunggu! Kau ingat wanita berkerudung, Tuan, dan Datuk kami tak berkutit di hadapan kepandaiannya dan sifatnya yang bengis. Dan jika wanita itu menginginkan pelayannya, apa yang bisa aku lakukan? Tapi aku mengisi kekosongan hatiku dengan lirikan dan relungan. Aku bergelandang menuju jamban pada siang hari, dan ketika matahari terbenam di balik hutan, aku merangkak di sepanjang pagar bunga melati di pelataran para wanita. Tanpa bertatapan, kami saling berbincang melalui aroma bunga, melalui kerudung daun, melalui helai rumput panjang mematung di depan bibir kami; begitu hati-hati kami, begitu samar bisikan rindu kami. Waktu cepat berlalu… dan ada bisikan di antara para wanita—dan musuh-musuh kami mengawasi—saudaraku muram, dan aku mulai memikirkan pembunuhan dan kematian beringas. Kita adalah bangsa yang merampas apa yang diinginkan—seperti kalian orang kulit putih. Ada saatnya ketika seseorang harus melupakan kesetiaan dan kehormatan. Kuasa dan wewenang dianugerahkan kepada para Datuk, tetapi manusia biasa mesti diberi cinta, harkat dan nyali. Saudaraku berkata, ‘Kamu mesti membawanya lari dari mereka. Kami adalah dua yang seperti satu.’ Dan aku menjawab, ‘Biarlah segera, karena aku merasa semua kehangatan matahari selalu bersinar padanya.’

Tiba saatnya Datuk dan semua orang penting pergi ke muara untuk memancing sambil membawa obor. Ada ratusan perahu, dan di pasir putih, antara alir sungai dan hutan, tempat tinggal dari daun dibangun untuk rumah tangga para Datuk. Asap api masak seperti kabut biru senja, dan banyak celoteh gembira di situ. Ketika mereka bersiap-siap untuk memancing, saudaraku menghampiri dan berkata, ‘Malam ini!’ aku melirik ke senjataku, dan ketika saatnya tiba, perahu kami berdatangan dikelilingi perahu lain yang membawa obor. Suluh berpendar di atas air, tetapi di belakang perahu ada kegelapan. Ketika mereka mulai berseru dan kegirangan, kita naik ke perahu. Air menelan api kita, dan kita mengapung kembali ke pantai gelap, berpelita jelaga. Kami bisa menyimak ocehan para budak perempuan di antara gubuk. Kemudian kami menemukan tempat telantar dan sunyi. Menunggulah di sana. Lalu munculah dia: tiba berlari-lari di sepanjang pantai, tangkas dan tidak meninggalkan jejak, seperti daun yang dihempaskan angin ke laut.

Saudaraku berkata muram, ‘bawa dia ke perahu kita.’

Aku merangkulnya. Dia terengah-engah. Hatinya berdegup keras di dadaku. Aku berkata, ‘Aku membawamu pergi dari orang-orang itu. Kau mengikuti suara teriakan hatiku, tetapi tanganku membawamu ke dalam perahu melawan kehendak banyak orang!’

‘Itu benar,’ kata saudaraku. ‘Kita adalah orang-orang yang mengambil apa yang kita inginkan dan tetap bersikeras memilikinya, walau banyak yang menentang. Kita seharusnya menjemputnya pada siang hari.’ Aku berkata, ‘Mari kita pergi’; karena sejak dia ada di perahuku, pasti banyak anak buah Datuk mengincar kami.’

‘Ya. Mari pergi,’ kata saudaraku. ‘Kita tertampik dan perahu ini adalah negara kita sekarang— dan laut adalah naungan kita.’ Dia tampak segan dan kakinya masih di pasir, dan aku memintanya untuk bergegas, karena debar jantung perempuan di dadaku membuatku ikut risau: dua orang tentu tidak dapat melawan ratusan. Kami meluncur, mengayuh dekat ke tepi; dan ketika kami melewati sungai tempat mereka memancing, seruan sudah berhenti, tetapi masih ada bisikan lantang bak dengung serangga, beterbangan pada siang hari. Perahu-perahu meluncur, bergumul, di bawah cahaya obor lembayung, di bawah kepul hitam asap; dan orang-orang berkelakar. Mereka membual, memuji, mencemooh—mereka yang tadinya menjadi kawan di pagi hari, malam itu menjadi musuh. Kami bergegas mengayuh melewati mereka. Kami tidak memiliki kawan lagi di tanah air sendiri. Perempuan itu bersimpuh di tengah perahu dengan wajah tertutup; mematung; tampak buta seperti sekarang—dan aku tidak menyesali apa yang kutinggalkan karena bisa mendengar napasnya di dekatku—seperti yang bisa kudengar sekarang.”

Dia berhenti, seketika telinganya tertuju pada pintu masuk, kemudian menggeleng dan melanjutkan:

“Saudaraku ingin menyerukan tantangan—satu seruan saja—agar orang-orang tahu kami adalah perampok merdeka yang percaya pada senjata kami dan laut raya. Aku memohon kepadanya atas nama cinta kita untuk tetap diam. Tidakkah aku mendengar napasnya di dekat situ? Aku tahu mereka memburu kita. Saudaraku mencintaiku. Dia menyelipkan dayungnya tanpa bunyi cipratan. Dia hanya berkata, ‘kau hanya separuh manusia sekarang—separuhnya lagi ada di dalam perempuan itu. Aku bisa menunggu. Ketika kamu menjadi manusia utuh lagi, kau akan kembali bersamaku di sini untuk menyerukan tantangan. Kita adalah putra dari ibu yang sama.’ Aku tidak menjawab. Semua kekuatan dan gairahku ada di tangan-tangan yang memegang dayung—karena aku sangat ingin bersamanya di tempat aman, di luar jangkauan kegusaran dan kebencian orang terhadap perempuan ini. Cintaku begitu besar, sehingga tampak bisa menuntunku ke negeri di mana kematian tidak ada, jika aku bisa melarikan diri dari amarah Inchi Midah dan dari pedang Datuk kami. Kami bergegas mengayuh, bernapas melalui gigi kita. Mata dayung menancap dalam riak tentram air. Kami meninggalkan sungai; kami mengalir ke kanal di antara dangkalan. Lalu mengelilingi pantai hitam; kami memutari pesisir di mana laut berbisik kepada daratan; dan kilau pasir putih berkedip kembali melintasi perahu kami, begitu cepatnya ia berlalu di atas air. Tak ada kata terlontar. Hanya sekali aku berkata, ‘Tidurlah, Diamelen, karena kamu mesti menyimpan tenaga.’ Aku menangkap kelembutan suaranya, tetapi aku tidak pernah menoleh. Matahari terbit dan kami masih terus bergerak. Air bercipratan dari wajahku seperti hujan dari awan. Kami melayang dalam pelita dan panas. Aku tidak pernah menengok ke belakang, tetapi aku tahu bahwa mata saudaraku, di belakangku, terus tertuju lurus ke depan, karena perahu bergerak sejajar seperti lemparan tombak seorang pemanah, yang saat itu meninggalkan ujung sumpitan. Tidak ada pendayung atau jurumudi sebaik saudaraku. Beberapa kali kami telah memenangkan ajang mendayung dengan perahu itu. Tetapi kami belum pernah mengerahkan segenap tenaga seperti yang kami lakukan saat itu—saat itu, untuk terakhir kalinya kami mendayung bersama! Tidak ada orang yang lebih perkasa di negeri ini daripada saudaraku. Aku tidak bisa meluangkan tenaga untuk menengok dan melihatnya, tetapi setiap saat kudengar desiran napasnya semakin keras di belakangku. Namun dia tidak berbicara. Matahari sudah tinggi. Panas melekat di punggungku seperti nyala api. Tulang rusukku siap meletus, tetapi aku tidak lagi bisa bernapas leluasa. Dan kemudian aku merasa aku harus berteriak dengan napas terakhirku, ‘Marilah kita beristirahat!’… ‘Baik!’ jawabnya; dan suaranya tegar. Dia kuat. Dia berani. Dia tak pernah takut dan tidak merasa lelah… itulah saudaraku!”

Desah berdaya dan lembut, desah yang bejibun dan samar; desah daun gemetar, cabang beringsut, merambat melalui belantara hutan yang kusut, merambat di atas gebunya laguna berbintang, dan air di antara tiang-tiang mengelupas kayu yang menggelincir dengan cipratan mendadak. Hembusan udara hangat membelai wajah kedua lelaki itu dan berlalu dengan bermuram durja—helaan panjang dan pendek seperti rintihan gelisah bumi yang sedang bermimpi.

Arsat melanjutkan dengan nada datar dan samar.

“Kami mendaratkan perahu kami di pesisir putih di teluk kecil dekat dengan bibir daratan panjang yang tampak menghalangi jalan kami; tanjung berhutan panjang yang menjorok jauh ke laut. Saudaraku tahu tempat itu. Di seberang tanjung, sebuah sungai bermuara, dan di hutan belantara dataran itu ada jalan sempit. Kami membuat api dan memasak nasi. Kemudian kami berbaring untuk tidur di pasir lembut di bawah naungan perahu kami, sementara dia berjaga. Tidak lama setelah menutup mata, aku mendengar jeritan perempuan itu yang menggelisahkan. Kami melompat bangkit. Matahari sudah separuh melintasi jalurnya di langit, dan ketika tiba pemandangan teluk, kami melihat sebuah prau dengan segelintir dayung. Kami segera menyadarinya; itu adalah salah satu prau Rajah kami. Mereka mengamati pantai, dan melihat kami. Mereka memukul gong, dan memutar ujung prau ke dalam teluk. Aku merasa jantungku melemah. Diamelen bersimpuh di pasir dan menutupi wajahnya. Tak mungkin lagi kabur melalui laut. Saudaraku tertawa. Dia bawa senjata yang kau berikan padanya, Tuan, sebelum kau pergi, tetapi hanya punya segenggam bubuk mesiu. Dia berbicara tangkas kepadaku: ‘Larilah bersamanya lewat situ. Aku akan menahan mereka, sebab mereka tidak memiliki senjata api, dan menghadapi orang dengan senjata api adalah ancaman nyata bagi beberapa orang. Larilah bersamanya. Di sisi lain hutan itu ada rumah nelayan—dan sebuah perahu. Ketika aku telah menembakkan semua peluru ini, aku akan mengikuti. Aku adalah pelari unggul, dan sebelum mereka bisa mendekati kita, kita akan pergi. Aku akan menahan mereka sebisaku, sebab dia hanya seorang wanita—yang tidak bisa lari atau berkelahi, tetapi dia menggenggam hatimu di tangan lemahnya.’ Dia turun di belakang perahu. Prau Rajah itu datang. Dia dan aku berlari, dan saat kami berlari melewati jalan, aku mendengar letupan peluru. Saudaraku menembak—sekali—dua kali—dan dentingan gong berhenti. Ada keheningan di belakang kami. Tanah genting itu sempit. Sebelum aku mendengar tembakan ketiga, aku melihat bibir pantai, dan aku melihat air lagi; mulut sungai yang lebar. Kami melewati padang rumput lebat. Kami menyebrangi air lagi. Aku melihat pondok rendah di atas lumpur hitam, dan sebuah perahu kecil terangkut ke atas. Tembakan lain kembali meletus di belakangku. Aku berpikir, ‘Itu adalah peluru terakhirnya.’ Kami berlari turun ke perahu; seorang pria datang berlari dari pondok, tetapi aku melompat menubruknya, dan kami bergulingan di lumpur. Kemudian aku bangkit, dan dia terbujur di kakiku. Aku tidak tahu apakah aku telah membunuhnya. Aku dan Diamelen mendorong perahu yang mengambang. Terdengar teriakan di belakangku, dan aku melihat saudaraku berlari melintasi padang rumput. Banyak orang mengejarnya. Aku merangkul Diamelen ke dalam pelukanku dan melemparkannya ke perahu, lalu melompat ke dalamnya. Ketika aku menengok ke belakang, aku melihat saudaraku telah jatuh. Dia jatuh dan bangkit lagi, tetapi orang-orang mulai mengeroyoki. Dia berseru, ‘Aku segera ke sana!’ Orang-orang mengerumuninya. Aku menoleh. Banyak orang. Kemudian aku menoleh ke perempuan itu. Tuan, aku mendorong perahu itu! Aku mendorongnya ke air yang dalam. Dia berlutut maju menatapku, dan aku berkata, ‘Ambil dayungmu,’ sementara aku memukul air dengan dayungku. Tuan, aku mendengar dia menjerit. Aku mendengarnya menjeritkan namaku dua kali; dan aku mendengar suara-suara bertempik, ‘Bunuh! Pukul!’ Aku tidak pernah menoleh lagi. Aku mendengarnya menjeritkan namaku lagi dengan pekikan hebat, seperti ketika hidup berakhir bersamaan dengan suara itu—dan aku tidak pernah menoleh. Namaku sendiri! . . . Saudaraku! Tiga kali dia memanggil—tetapi aku tidak takut pada hidup. Bukankah perempuan itu berada di perahu itu? Dan apakah aku tak bisa bersamanya menemukan negeri di mana kematian dilupakan—di mana kematian tidak dikenal!”

Lelaki kulit putih itu duduk tegak. Arsat bangkit dan berdiri. Ia menjadi sosok yang samar dan bisu di atas bara api yang mulai padam. Di atas laguna, kabut yang melayang rendah telah menyelinap, perlahan-lahan melesapkan gemerlap bintang-bintang. Dan kini, satu bentangan uap putih menutupi tanah: mengalir dingin dan kelabu di dalam kegelapan, berputar dalam pusaran hening mengelilingi batang pohon dan sekitar mimbar rumah, yang tampak melambung di atas ilusi sebentang laut yang gelisah dan tak kasat. Hanya di kejauhan, puncak-puncak pohon tampak berdiri pada kilauan langit, seperti pantai yang suram dan melarang — pantai yang menipu, bengis, dan hitam.

Suara Arsat bergetar keras di tengah lengang.

“Aku mendapatkan perempuan itu! Dia milikku! Untuk mendapatkannya, aku akan menghadapi seluruh umat manusia. Tapi aku mendapatkannya — dan —”

Kata-katanya memudar, berdering ke dalam relung yang kosong. Dia berhenti, seolah-olah mendengarkan mereka memudar jauh — tak ada yang bisa menolong dan memanggil. Kemudian dia berkata dengan kepala dingin,

“Tuan, aku mencintai saudaraku.”

Nafas angin membuatnya gemetar. Jauh di atas kepalanya, di atas lautan kabut yang sunyi, daun-daun palem yang meliuk berdenting bersamaan dengan suara sayup-sayup duka. Lelaki kulit putih meregangkan kakinya. Dagunya diletakkan di dada, dan dia berbisik pilu tanpa mengadah —

“Kita semua mencintai saudara-saudara kita.”

Arsat menyembur marah sambil berbisik keras —

“Apa peduliku siapa yang mati? Aku ingin kedamaian di hatiku.”

Terdengar keributan di dalam rumah. Dia mendengarkan, kemudian masuk dengan gerakan senyap. Lelaki kulit putih itu berdiri. Angin bertiup dalam hembusan yang tidak menentu. Bintang-bintang bersinar lebih pucat, seolah-olah mereka telah menjauh ke kedalaman beku angkasa raya. Setelah angin dingin berdesir, ada beberapa detik segenap syahdu dan hening. Kemudian, dari balik garis hitam dan berombak hutan, tiang cahaya emas melesat ke langit dan merambat di atas setengah lingkaran cakrawala timur. Matahari telah terbit. Kabut terangkat, pecah menjadi bercak menggeluyur, dan lenyap menjadi selubung tipis yang terbang; dan laguna yang tersingkap terbentang, berkilau dan hitam, dalam bayangan tebal di kaki jejeran pepohonan. Seekor rajawali putih mencuat di atasnya, terbang sambil miring dan bagong, mencapai kilau matahari dan terlihat sejenak mempesona, kemudian menjulang lebih tinggi, menjadi bintik hitam dan membatu sebelum akhirnya lenyap ditelan biru seolah telah meninggalkan bumi selamanya. Lelaki kulit putih, berdiri dengan mata tertuju ke atas di depan pintu, mendengar di dalam pondok suara berbaur dan pecah menjadi desahan buncah dan terputus, diakhiri dengan erangan nyaring. Tiba-tiba Arsat tersandung keluar dengan tangan terentang, menggigil, dan berdiri mematung beberapa saat dengan mata terpaku kosong. Lalu dia berkata—

“Dia tak demam lagi.”

Di hadapannya, tepi matahari mencuat di atas puncak-puncak pohon, naik dengan mantap. Angin segar menjeru, dan binar gemilang meledak di atas laguna, berkilau di atas air berombak. Hutan-hutan muncul dari bayangan pagi curai, menjadi gamblang, seolah-olah mereka telah mendekat — hanya untuk terhenti diliputi kegelisahan dari daun-daun bergerak, cabang-cabang mengangguk, ranting-ranting berayun. Di bawah sinar matahari yang tak iba, bisikan kehidupan tak sadar semakin keras, berlantur dengan suara gaib di sekitar kegelapan bisu dari manusia merana. Mata Arsat melirik perlahan-lahan, kemudian mengerling ke fajar.

“Tidak ada yang bisa kulihat,” katanya setengah melantur kepada dirinya sendiri.

“Tidak ada apapun,” kata lelaki kulit putih, bergerak ke tepi mimbar dan mengayunkan tangannya ke perahunya. Terdengar teriakan samar-samar di atas laguna, dan sampan mulai meluncur menuju ke kediaman para hantu.

“Jika kau ingin ikut pergi bersamaku, aku akan menunggu sepanjang pagi,” ucap lelaki kulit putih, memandang ke arah air.

“Tidak, Tuan,” kata Arsat lembut. “Aku tidak akan makan atau tidur di rumah ini, tetapi aku harus melihat jalan dulu. Sekarang aku tidak bisa melihat apapun — apapun! Tak ada cahaya dan tak ada kedamaian di dunia ini; tetapi ada kematian — kematian bagi banyak orang. Kita adalah anak-anak dari ibu yang sama — dan aku meninggalkannya di tengah musuh; tetapi aku mesti kembali sekarang.”

Dia menghela nafas panjang dan melanjutkan seperti melantur,

“Sebentar lagi aku ingin melancarkan serangan — menyerang. Tapi dia sudah mati, dan… sekarang… gelap.”

Dia membentangkan lebar lengannya, lalu menjatuhkannya ke sekujur tubuh, lalu berdiri diam dengan wajah membatu, mengerling matahari yang menyingsing. Lelaki kulit putih turun ke perahunya. Juru tonggak bergegas di sepanjang sisi perahu, memandang gelisah awal perjalanan yang sudah melelahkan. Di buritan, dengan kepala dibalut kain putih, sang juragan duduk murung, membiarkan dayungnya mengepak di air. Lelaki kulit putih, membungkuk dengan kedua lengan di atas atap jerami kabin kecil, menengok kembali ke gelombang berkilau di belakang perahu. Sebelum sampan meninggalkan laguna dan mengaliri sungai kecil, dia membuka mata. Arsat tidak bergerak. Ia tegap berpijak sebatang kara di bawah sinar matahari yang meraba; dan ia meninjau kegelapan ilusi melampaui pelita langit di hari cerah tak berawan.


Joseph Conrad (lahir Józef Teodor Konrad Korzeniowski, 3 Desember 1857 – 3 Agustus 1924) adalah seorang novelis dan penulis cerita pendek Inggris kelahiran Polandia. Ia terkenal karena karya-karyanya yang mengeksplorasi tema-tema imperialisme, kolonialisme, dan sifat manusia, seperti Heart of Darkness, Lord Jim, dan Nostromo. Dia ditawari gelar ksatria dan gelar kehormatan Inggris, tetapi dia menolaknya karena kebangsawanan Polandianya. Analisis pascakolonial terhadap karya Conrad telah memicu perdebatan substansial. Pada tahun 1975, penulis Chinua Achebe menerbitkan sebuah artikel yang mengecam Heart of Darkness sebagai rasis dan tidak manusiawi, sedangkan sarjana lain, termasuk Adam Hochschild dan Peter Edgerly Firchow, membantah pandangan Achebe. Ia meninggal pada tahun 1924 dan dimakamkan di Canterbury, Inggris.

 

Sarita Rahel Diang Kameluh (lahir 10 April 1998) adalah alumnus dan lulusan Mathematics & Physics di Open University Campus Glasgow dan FH Aachen tetapi menyukai dunia kepenulisan. Beberapa karyanya tersiar di media daring maupun cetak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *