Oppenheimer dari Luar Bioskop (2) : Absennya Perempuan dalam Sains

Hubungan Oppenheimer dengan Jean Tatlock tak sampai pada ikatan hubungan yang lebih serius—pernikahan. Walaupun, di dalam film kita menonton adegan mereka beberapa kali melakukan hubungan seks. Di sana terkisah gejolak demi gejolak. Oppenheimer kemudian menikah dengan seorang ahli biologi, Kitty Harrison yang dalam catatan sejarah berlangsung pada tahun 1940.

Dari film, kita dapat memberikan ingatan pada banyak orang bahwa dua perempuan itu dalam keterhubungannya dengan Oppenheimer sering dimunculkan. Namun, ada sebuah catatan penting bahwa yang terjadi di dalam film kita merasa ada yang janggal dan perlu diurai. Dua perempuan itu meski memiliki pengaruh yang berbeda terhadap keberadaan Oppenheimer, tapi tidak merepresentasikan hadirnya perempuan dalam kacamata sains kealaman.

Hal ini kemudian diperkuat oleh kehadiran para ilmuwan dalam lingkaran Oppenheimer dan secara khusus di Proyek Manhattan. Keseluruhan ilmuwan yang ditampilkan adalah sosok laki-laki. Terlepas film itu diangkat dari kisah fiksi, nampaknya penting kiranya untuk mendedah bagaimana representasi perempuan dalam keterlibatan sains. Sebab, bila tidak demikian, ada kenyataan yang berkepanjangan dalam wacana dan peranan perempuan di bidang sains.

Aku teringat sosok Marie Curie, ilmuwan perempuan yang dalam hidupnya memperoleh dua kali penghargaan hadiah Nobel. Pertama pada 1903, bersama Pierre Curie dan Henri Becquerel untuk karya mengenai radioaktif dalam bidang fisika dan kedua, pada 1908, dengan penemuannya akan polonium dan radium dalam bidang kimia. Curie lahir di Warsawa, Polandia pada tahun 1867.

Meski tak mengalami Perang Dunia II yang berlangsung mulai 1939, sebab pada 1934 ia meninggal, namun ada catatan penting keterlibatannya dalam Perang Dunia I (1914-1918). Penjelasan itu bisa didapatkan melalui buku garapan Paul Strathern (1997) yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan oleh Andreas Haryono, Curie & Radioaktivitas (Erlangga, 2002).

Catatan Paul Strathern berupa: “Tahun 1914, Marie menyaksikan pecahnya Perang Dunia I. Pasukan barat segera membuat parit sepanjang 400 mil yang membentang dari Perancis, melewati pegunungan Alpen di Swiss sampai ke laut Selatan. Marie Curie menghentikan penelitian radiumnya dan memulai percobaan yang menghasilkan sinar X portable. Ia berkampanye menggalang dana bagi rumah sakit. Kemudian, Ia mengusahakan sebuah ambulans untuk membawa sinar X-nya.”

Sinar X itu bersejarah. Penemuan dari Wilhelm Conrad Röntgen menandai terobosan ilmu dan pengetahuan pada fajar abad XX. Sinar X itu pula menjadi salah satu peraih Nobel pertama kali yang dihelat di tahun 1901. Sampai abad XXI, kita mudah paham, keberadaan sinar X berguna dalam dunia kesehatan maupun medis. Keterlibatan Curie tentunya menjadi sesuatu hal penting yang menunjukkan sikap ilmuwan tatkala menghadapi gejolak.

Kita menemukan buku berjudul Tokoh-Tokoh Wanita dalam Ilmu Pengetahuan Modern hasil terjemahan karya Edna Jost oleh Harry Agustaman terbitan PT. Kinta Djakarta tahun 1961. Buku berlatar keresahan dalam memberi babak peranan perempuan di bidang ilmu dan pengetahuan. Edna Jost dalam pengantarnya menulis: \

“Penerbit telah meminta saja untuk menemukan sekelompok kaum wanita jang karya ilmiahnja meliputi ber-matjam2 lapangan jang menarik bagi kaum wanita jang lebih muda jang sekiranja akan memilih ilmu pengetahuan sebagai pekerdjaan selama hidupnja.”

Dari sebelas biografi perempuan yang ditulis, menariknya ada dua sosok yang peranannya berhubungan dengan nuklir. Masing-masing adalah: Chien Shiung Wu dan Edith Hinkley Quimby. Chien Shiung Wu merupakan perempuan kelahiran Tionghoa pada 1915 yang meraih gelar doktor mengenai ilmu alam nuklir dari Universitas Princenton pada 1958. Sementara itu, Edith Hinkley Quimby kelahiran Illionis, Amerika Serikat pada 1891 yang terkenal dalam bidang ilmu radiasi.

Selain itu, satu nama penting yang jasanya berupa keterlibatannya dalam Perang Dunia II dengan kemampuan meteorologinya. Sosok itu adalah Florence van Straten. Ia lahir di Connecticut, Amerika Serikat pada 1913. Di buku, terdapat keterangan:

“Selain untuk meramalkan keadaan tjuatja, jang telah madju dalam penggunaannja jang lahir setelah beberapa waktu diketemuannja tjara pengiriman berita dengan kawat (telegraphy), meteorology tersebut baru sadja hendak berkembang sebelum petjah Perang Dunia II.”

Perang butuh kemampuan membaa cuaca. Dalam sejarah, ada perempuan yang terlibat.

Pada pembabakan ilmuwan di bidang sains, minimnya keterlibatan perempuan masih terasa hingga saat ini. Ada fakta menarik kesejarahan sains seusai perang, sebagaimana ditulis oleh Vivian Gornick (1983) yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Amsyati Susilaradeya-Sumakno, Wanita dalam Sains: Gambaran Suatu Dunia dalam Masa Peralihan (Sinar Harapan, 1988). Penjelasannya sebagaimana dalam paragraf berikut:

“Seusai perang, sains menjadi wabah yang menegangkan. Ia menyebabkan perubahan sikap terhadap pengetahuan dan upaya pencapaiannya. Dalam waktu yang agak singkat, sains dianggap sebagai suatu pengalaman yang dapat dinikmati siapa pun. Zaman sains telah tiba, dan beribu-ribu orang mengira bahwa mereka berha untuk mengambil bagian dalam sesuatu yang bersifat hanya sementara. Maka terjadilah suatu pencampuradukan secara besar-besaran. Sebuah profesi yang tadinya begitu utuh, homogen dan hanya terdiri ratusan orang, kini meledak dengan jumlah yang terus bertambah tanpa dapat dikontrol, dan menjadi suatu pluralitas yang terdiri dari puluhan ribu orang.”

Di sisi lain, perlu diketahui bahwa dalam relasi yang muncul sebagai sebuah kenyataan, sains juga terpengaruhi oleh politik, ambisi, golongan masyarakat, seks, dan ras. Meski kebudayaan mulai membuka diri pada kehadiran ilmuwan yang beragam latar belakang, itu menjadi keresahan yang digambarkan oleh Gornick:

“Maka suasana dalam sains, tempat para wanita sejak mula dipersulit, ditolak, dihalang-halangi, ditakut-takuti, dan tidak diberikan kenaikan pangkat, menjadi makin menjengkelkan disebabkan adanya pengingkaran disertai pembelaan diri atas apa yang terjadi.”

Dari film “Oppenheimer” tentu kita betul-betul diajak berpikiran ulang mengenai relasi yang terjadi perempuan dalam sains. Sebagai kerangka sejarah yang dikisahan dalam film tersebut menjadi pelajaran berharga untuk melakukan telaah hingga masa kini. Kita kemudian berpikiran mengenai konsep feminisme dalam perkembangan yang terjadi pada sains.

Di Jurnal Perempuan edisi No. 18 Tahun 2001, Donny Gahral Adian menulis esai berjudul “Kritik Feminisme Terhadap Sains”. Ia mengungkapkan:

“Kritik feminisme terhadap sains adalah kritik ideologi. Sains yang selama ini dipandang sebagai aktivitas bebas nilai dengan mengedepankan pengukuran dan observasi ternyata sarat nilai dan kepentingan. Kalangan feminis beranggapan bahwa nilai dan kepentingan yang melandasi aktivitas sains adalah nilai dan kepentingan patriarkal. Oleh karenanya, kritik terhadap ideologi di balik sains ditujukan untuk membersihkan sains dari bias-bias sosial, khususnya bias gender.”[]

* Joko Priyono Fisikawan Partikelir. Penulis Buku Bersandar pada Sains (2022).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *