Dangdut dan Bersin

Yang terkenang itu musik, tanpa harus mengikutkan tulisan. Ingatan-ingatan bakal bermunculan setelah mendengar di hitungan detik, tak sampai selesai. Masa lalu itu bermusik. Yang menikmati dan terkenang dangdut mengetahui nama-nama, yang membawanya ke silam. Nama-nama ikut menyusun biografi yang pasang-surut.

Orang masih mau naik bis sering bergerak kencang akan melanjutkan biografinya dengan dangdut tapi citarasanya berbeda. Naik bis jurusan Solo-Surabaya, dangdut sepanjang jalan. Duduk di kursi mendengarkan dangdut sambil berharap waktu berjatuhan dan berserakan. Dangdut yang tidak memungkinkan tidur lelap. Dangdut yang memastikan perjalanan terlarang sepi.

Di bis, orang membaca buku berjudul Irama Orang-Orang (Menolak) Kalah (2023) susunan Irfan R Darajat akan merasakan tubuh yang bergoyang. Sopir menjadikan penumpang bergoyang, belum tentu lagu-lagu dangdut yang sedang diputar.

Buku bisa dirampungkan 2-3 jam mumpung berada dalam bis. Buku kelak “mengekalkan” dangdut koplo, belum tentu dangdut yang terkenang dari puluhan tahun silam. Yang disampaikan Irfan: “Ketika Rhoma Irama menyatakan koplo bukanlah dangdut, saya langsung ingin menelusuri dari mana datangnya kuasa ini. Bagaimana ia bekerja dalam musik dangdut? Bagaimana ia menentukan mana yang dangdut dan mana yang bukan?” Sederetan kalimat dijawab menjadi buku.

Ia yang mencari, memikirkan, dan menuliskan. Buku masih di pangkuan. Pembacanya ikut mengenang: tulisan tertua tentang dangdut pernah terbit di Indonesia? Dibukalah halaman daftar pustaka. Di situ, terbaca acuan majalah-majalah yang digunakan Irfan: Aktuil (1972, 1975, 1976), Tempo (1984), dan Selecta (1959). Lacakan yang memastikan Irfan berani berpendapat dan pamer tafsiran untuk sampai ke perkara dangdut (koplo).

Beberapa hari setelah punah lelah naik bis, pembaca bersin-bersin di tumpukan majalah lawas. Ditemukan! Ia menemukan majalah Tempo, 22 Maret 1975. Bersin menandai penemuan, bukan teriak atau makian. Tampilan sampul yang norak. Di pojok, terbaca: “Dang Dut Dang Dut”. Majalah yang berani berdangdut.

Paragraf-paragraf yang membuka kenangan, dibaca telat setelah khatam buku berjudul Irama Orang-Orang (Menolak) Kalah. Telat yang masih mungkin mengabarkan kepada umat dangdut yang berharap tulisan lama. Kutipan:

“Sekarang bisa dilihat orkes melayu Soneta pimpinan Oma Irama. Rekamannya merupakan yang paling laku. Tidak kalah dengan El Sitara pimpinan Ellya Khadam, Soneta mampu menampilkan ciri-ciri melayu dangdut secara kaya. Bahkan Oma memasukkan unsur pengaruh musik pop Barat…” Ia yang selalu dikenang: Oma Irama atau Rhoma Irama.

Jendela yang terbuka, sinar matahari yang masuk memanaskan kamar. Berkeringatan. Dangdut di tulisan yang lama berada dalam tumpukan ratusan majalah bisa terbuka. Lega. Dangdut tak cuma didengar sepanjang hari tapi ada tulisan memberi rangsang dan penguatan ingatan.

Kalimat-kalimat akhir dalam tulisan panjang di Tempo agak seru:

“Memang barangkali tahun 1975 merupakan masa istirahat bagi para musisi pop yang kecapaian atau sudah kehabisan bahan. Siapa tahu masa berikutnya akan tampil musik dengan corak lain lagi. Sekarang ini, mari buka baju dan buka sepatu. Kita nyanyi lagu dangdut.”

Yang membuat kalimat mungkin mendamba keringat.

Tempo pantas mendapat penghargaan dari umat dangdut. Majalah yang rajin memberitakan dangdut, tak lupa memuat kolom-kolom mengenai dangdut, sejak masa 1970-an sampai sekarang. Tempo memang bukan bacaan yang mudah bagi umat dangdut tapi sanggup menyuguhkannya sebagai perkara bisa “digoyang” dengan perdebatan (tulisan). Dangdut yang tulisan, dangdut yang terbaca.

 

*Kabut Pedagang buku bekas

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *