Oppenheimer dari Luar Bioskop (1) : Laboratorium dan Papan Tulis – oleh Joko Priyono​

Kamis, 20 Juli 2023 aku membuat janji dengan seorang kawan bernama Rasyidi untuk menonton film “Oppenheimer” di keesokan harinya. Menuju tanggal tua, aku berpikir bioskop. Ke bioskop tentu tak bisa gratis. Namun, dikarenakan obrolan mengenai sosok itu pada kamis malam, akhirnya kami memutuskan untuk menonton. Ketika itu kami mengobrolkan beberapa buku dan tulisan yang mengetengahkan ahli fisika yang disebut “Bapak Bom Atom” itu.

Tanggal tua, pilihan ke bioskop bisa nelangsa. Sebab, di waktu yang bersamaan tenggat membayar wifi setiap tanggal 20 belum terlunasi. Aku nekat bilang pada pemilik kontrakan yang aku singgahi. “Tuan Januardi, mengingat kemiskinan yang mencekik menuju akhir bulan, maafkan aku. Aku belum sanggup mentransfer uang sejumlah 350 ribu seperti biasanya. Nanti kalau sudah gajian, aku transfer bersamaan iuran di bulan berikutnya.”

Ia memberi jawaban “Ok” yang melegakan diriku. Jaringan wifi di tanggal itu masih berjalan—yang artinya tak perlu menduga, biaya itu telah ia bayarkan terlebih dahulu. Aku mendapati peristiwa yang mengejutkan walaupun masih berpikir hari-hari sampai akhir bulan Juli. Oh, kesepakatan tetap dilaksanakan. Rasyidi menjemputku di Jumat, 21 Juli 2023 pukul 19:30 WIB. Kami berencana menonton di Solo Square, secara jarak tertempuh dalam waktu 3-5 menit.

Sekiranya pukul 19:40 WIB kami tiba di parkiran motor. Di sana parkir bayar terlebih dahulu sebesar Rp2.000,-. Kami kemudian masuk ke mall, mencari-cari bioskop yang ada di tempat itu. Kalau tak salah di lantai tiga. Saking kurang seringnya ke “mall” kami kikuk. Mencari lift tak ketemu-ketemu, meski kemudian menenangkan diri dengan menaiki eskalator dari lantai demi lantai. Ah, dasar, selera nongkrong kami mungkin berbeda. Nonton di bioskop menjadi perkara jarang.

Kami membeli tiket seharga Rp80.000,- untuk dua orang. Kami tergesa untuk masuk, sebelum diingatkan oleh penjaga pintu, yang ternyata itu pintu keluar. “Ini pintu keluar. Teater akan dibuka sebentar lagi dan lewat pintu samping.” Kekikukan dan kegugupan itu mungkin yang membuat Rasyidi ke kamar mandi terlebih dahulu—selain kencing tentu membuang kegugupan itu. Aku pun juga ke kamar mandi. Di tempat yang berbeda, aku masuk dan membasuh tangan saja dengan harap gugup tak menyelimuti.

“Pintu teater dua telah dibuka,” terucap oleh petugas yang membuat kami bergegas masuk. Di sana film tak langsung diputar, perlu menunggu lima belas menit. Kami menonton promosi sekian film di layar sembari mengobrolkan kemungkinan demi kemungkinan yang terjadi dalam film nanti. Malam sebelumnya, kami mendiskusikan sebuah buku berjudul Oppenheimer & Bom Atom (Erlangga, 2003). Buku itu garapan Paul Strathern (1997) yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Fransisca Petrajani.

Salah satu yang kami obrolkan serius adalah pertemuan Robert Oppenheimer dengan perempuan bernama Jean Tatlock. Ia jatuh cinta pada psikolog yang juga merupakan anggota Partai Komunis itu. Dalam buku tersebut dituliskan: “Dengan kehadiran Jean Tatlock dalam hidup Oppenheimer, semuanya berubah. Oppenheimer segera terlibat dengan politik sayap kiri untuk waktu yang cukup lama. Meskipun demikian, perubahan tersebut tidak sepenuhnya dikarenakan kisah cintanya itu. Mereka sebenarnya pertama kali berhubungan satu sama lain dalam pertemuan sayap kiri untuk menarik perhatian panggung politik yang memburuk di Eropa (contohnya karena adanya perang saudara di Spanyol).”

Keterangan itu mengesahkan obrolan kami mengenai perempuan dan ideologi yang berpengaruh pada seorang ilmuwan. Aku bilang pada Rasyidi: “Wah, ini nampaknya Oppenheimer adalah seorang fisikawan yang berhaluan kiri, Syid.” Ia tersenyum dan menunggu penjelasan selanjutnya. Wah, di film kami tertawa saat perjumpaan Oppenheimer dengan Tatlock. Ia berucap kurang lebih: “Apakah aku sudah bisa disebut sebagai komunis, sebab aku telah menghatamkan tiga jilid Das Capital Karl Marx?” “Komunis bukan seperti itu. Komunis adalah prinsip dan komitmen,” kiranya begitu jawaban yang diberikan oleh Tatlock.

Adegan demi adegan tersuguhkan dalam film dengan durasi sekitar tiga jam itu. Kita berpikir mengenai ilmuwan. Wah, ilmuwan di kalangan sains kealaman itu biasanya dalam bayangan banyak orang bermuka kaku, terlalu serius, dan kelihatan berpikir. Kita agak kaget dengan peranan Oppenheimer di sekian adegan. Ia selalu membawa pipa dan terkadang sebatang rokok yang terus dihisap. Entah di kereta, di mobil, di rumah, di jalan, hingga di laboratorium. Wah, kurang ajar. Ilmuwan itu mulutnya perlu berasap.

Dalam babak demi babak, kita diperlihatkan gelagat Oppenheimer dengan lingkaran teman-teman seprofesinya sebagai ilmuwan. Kita hanya melihat sedikit adegan saja mereka itu menenteng buku. Selebihnya, kita banyak melihat gerak-gerik mereka tatkala di laboratorium. Ini bisa jadi memberikan gambaran bahwa riset yang dilakukan sepenuhnya berhubungan dengan teknis. Di laboratorium itu kita terimajinasikan banyak hal. Alat eksperimen, tumpukan makalah, kursi, hingga suasana yang muncul.

Dulu, pada ceramah ilmiahnya di Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) tahun 2015, seorang lulusan Teknik Nuklir UGM, Nirwan Ahmad Arsuka menyampaikan makalah berjudul “Percakapan dengan Semesta”. Tulisan itu adalah salah satu tulisan yang bagiku berkesan dan banyak memengaruhiku dalam memikirkan persoalan sains dan teknologi. Aku belum pernah sekalipun bertemu Nirwan. Aku hanya pernah bercakap melalui sekian jenama media.

Nirwan adalah salah satu nama yang tekun menulis sains. Di pidato itu, Nirwan memberikan uraian bahwa laboratorium dan perpustakaan adalah dua hal yang membentuk dunia keilmuan. Di sanalah dengan keketatan metode yang dijalani oleh para ilmuwan melahirkan gagasan demi gagasan baru yang membentuk progresivitas ilmu dan pengetahuan. Di kalangan ilmuwan, secara khusus sains kealaman—dengan keyakinan bahwa kebenaran bersifat sementara yang menjadikan wacana itu terus dinamis.

Di film, kita mudah menemukan perdebatan dan pertikaian antara satu ilmuwan dengan lainnya saat di laboratorium. Kita kemudian diajak menengok papan tulis. Di hadapan mereka, papan tulis bukanlah papan berwarna hitam dengan kapur putih itu. Papan tulis adalah lembar penyangsian terhadap upaya untuk menggambarkan realitas dunia. Papan tulis itu penuh teori bersama persamaan matematika dengan turunannya yang detail, memukau, dan indah.

Pada pergolakan yang dilalui Oppenheimer, mulanya kita melihat peristiwa magis itu. Di bawah hasrat dan keterhubungannya dengan sayap kiri yang disebutkan kemudian—ia sebagai seorang simpatisan komunis, papan tulis terlihat kering. Papan itu termunculkan beberapa kali dengan tulisan nama serikat buruh yang digarap bersama kawan-kawannya. Di luar film “Oppenheimer” kita terus diajak berpikir papan tulis. Papan tulis itu pemecah jalan buntu, walau kemudian banyak orang belum tentu sudi bersentuhan dengannya.[]

 

*Joko Priyono Fisikawan Partikelir. Penulis Buku Bersandar pada Sains (2022).

Satu tanggapan untuk “Oppenheimer dari Luar Bioskop (1) : Laboratorium dan Papan Tulis – oleh Joko Priyono​”

  1. Avatar Kadek Sonia Piscayanti
    Kadek Sonia Piscayanti

    Keren banget tulisan anda, sangat berbeda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *